10 Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional

Semua orang selalu berbicara tentang Emotional Intelligence(EI), dalam bahasa Indonesia biasa disebut intelegensi emosional atau kecerdasan emosional, tapi apa sebenarnya itu? Salah satu aspek penting dari kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami, mengendalikan dan mengevaluasi emosi – dalam diri sendiri dan orang lain – dan menggunakannya sebagai informasi yang tepat.

Sebagai contoh, kecerdasan emosional dalam diri sendiri dapat membantu Anda mengatur dan mengelola emosi Anda, sementara mengakui emosi orang lain dapat menciptakan empati dan keberhasilan dalam hubungan Anda, baik hubungan pribadi maupun hubungan profesional.

Pada tahun 1990, psikolog Yale John D. Mayer dan Peter Salovey memunculkan istilah kecerdasan emosional, yang beberapa peneliti mengklaim bahwa ini adalah karakteristik bawaan, sementara yang lain menunjukkan bahwa Anda dapat mengembangkan dan meningkatkannya.

Mungkin tidak semua dari anda memiliki psikoterapis untuk meningkatkan kecerdasan emosional anda, namun kini Anda bisa menjadi terapis sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Freud, seorang tokoh psikoanalisis. Semua itu dimulai dengan belajar bagaimana untuk mendengarkan perasaan-perasaan Anda. Meskipun tidak mudah, mengembangkan kemampuan untuk mengelola emosi Anda sendiri, namun ini adalah langkah pertama dan paling penting.

Norman Rosenthal, MD, seorang psychiatrist dan peneliti seasonal affective disorder menjelaskan dalam sebuah bukunya yang berjudul “The Emotional Revolution”, dikutip dari psychology today (5/1/12), berikut adalah 10 cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional Anda:

  1. Coba rasakan dan pahami perasaan anda. Jika perasaan tidak nyaman, kita mungkin ingin menghindari karena mengganggu. Duduklah, setidaknya dua kali sehari dan bertanya, “Bagaimana perasaan saya?” mungkin memerlukan waktu sedikit untuk merasakannya. Tempatkan diri Anda di ruang yang nyaman dan terhindar dari gangguan luar.
  2. Jangan menilai atau mengubah perasaan Anda terlalu cepat. Cobalah untuk tidak mengabaikan perasaan Anda sebelum Anda memiliki kesempatan untuk memikirkannya. Emosi yang sehat sering naik dan turun dalam sebuah gelombang, meningkat hingga memuncak, dan menurun secara alami. Tujuannya adalah jangan memotong gelombang perasaan Anda sebelum sampai puncak.
  3. Lihat bila Anda menemukan hubungan antara perasaan Anda saat ini dengan perasaan yang sama di masa lalu. Ketika perasaan yang sulit muncul, tanyakan pada diri sendiri, “Kapan aku merasakan perasaan ini sebelumnya?” Melakukan cari ini dapat membantu Anda untuk menyadari bila emosi saat ini adalah cerminan dari situasi saat ini, atau kejadian di masa lalu Anda.
  4. Hubungkan perasaan Anda dengan pikiran Anda. Ketika Anda merasa ada sesuatu yang menyerang dengan luar biasa, coba untuk selalu bertanya, “Apa yang saya pikirkan tentang itu?” Sering kali, salah satu dari perasaan kita akan bertentangan dengan pikiran. Itu normal. Mendengarkan perasaan Anda adalah seperti mendengarkan semua saksi dalam kasus persidangan. Hanya dengan mengakui semua bukti, Anda akan dapat mencapai keputusan terbaik.
  5. Dengarkan tubuh Anda. Pusing di kepala saat bekerja mungkin merupakan petunjuk bahwa pekerjaan Anda adalah sumber stres. Sebuah detak jantung yang cepat ketika Anda akan menemui seorang gadis dan mengajaknya berkencan, mungkin merupakan petunjuk bahwa ini akan menjadi “sebuah hal yang nyata.” Dengarkan tubuh Anda dengan sensasi dan perasaan, bahwa sinyal mereka memungkinkan Anda untuk mendapatkan kekuatan nalar.
  6. Jika Anda tidak tahu bagaimana perasaan Anda, mintalah bantuan orang lain. Banyak orang jarang menyadari bahwa orang lain dapat menilai bagaimana perasaan kita. Mintalah seseorang yang kenal dengan Anda (dan yang Anda percaya) bagaimana mereka melihat perasaan Anda. Anda akan menemukan jawaban yang mengejutkan, baik dan mencerahkan.
  7. Masuk ke alam bawah sadar Anda. Bagaimana Anda lebih menyadari perasaan bawah sadar Anda? Coba asosiasi bebas. Dalam keadaan santai, biarkan pikiran Anda berkeliaran dengan bebas. Anda juga bisa melakukan analisis mimpi. Jauhkan notebook dan pena di sisi tempat tidur Anda dan mulai menuliskan impian Anda segera setelah Anda bangun. Berikan perhatian khusus pada mimpi yang terjadi berulang-ulang atau mimpi yang melibatkan kuatnya beban emosi.
  8. Tanyakan pada diri Anda: Apa yang saya rasakan saat ini. Mulailah dengan menilai besarnya kesejahteraan yang anda rasakan pada skala 0 dan 100 dan menuliskannya dalam buku harian. Jika perasaan Anda terlihat ekstrim pada suatu hari, luangkan waktu satu atau dua menit untuk memikirkan hubungan antara pikiran dengan perasaan Anda.
  9. Tulislah pikiran dan perasaan Anda ketika sedang menurun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan menuliskan pikiran dan perasaan dapat sangat membantu mengenal emosi Anda. Sebuah latihan sederhana seperti ini dapat dilakukan beberapa jam per minggu.
  10. Tahu kapan waktu untuk kembali melihat keluar. Ada saatnya untuk berhenti melihat ke dalam diri Anda dan mengalihkan fokus Anda ke luar. Kecerdasan emosional tidak hanya melibatkan kemampuan untuk melihat ke dalam, tetapi juga untuk hadir di dunia sekitar Anda.

Galau Dilihat dari Sisi Psikologi

Galau, sudah tidak asing lagi didengar oleh kalangan remaja hingga dewasa awal. Bila diperhatikan, tidak jarang kita menemui status facebook atau twitter yang berisi kegalauan dari pemilik akun. Biasanya mereka menunjukkan kegalauan dengan status mengeluh, menunjukkan diri sedang resah, bingung, dan pikiran kacau. Bagaimana sebenarnya galau dilihat dari sisi psikologi? Apakah ini termasuk gangguan atau tidak?

Galau dalam KBBI memiliki persamaan kata dengan kacau pikiran, bimbang, bingung, cemas dan gelisah. Kata galau akan lebih tepat bila disebut bimbang, namun pengertiannya lebih pada arah bentuk kecemasan seseorang.

Kecemasan adalah perasaan tak nyaman berupa rasa gelisah, takut, atau khawatir yang merupakan manifestasi dari faktor psikologis dan fisiologis. Kecemasan dalam kadar normal merupakan reaksi atas stress yang muncul guna membantu seseorang dalam merespon situasi yang sulit.

Kecemasan dapat dimasukkan dalam teori psikoanalisis. Freud mengatakan kecemasan berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada.

  • Kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada besarnya ancaman.
  • Kecemasan neurotik adalah rasa takut bila instink atau keinginan pribadi akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.
  • Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

Galau adalah bentuk kecemasan, sedangkan status FB dan Tweet yang mereka ketik adalah bentuk perilakunya. Cara mengatasi kegalauan bukan hanya terkait dengan usaha menstabilkan diri, namun juga mengatasi masalah yang ada. Problem solving bisa dilakukan dengan cara:

  • Mengubah dorongan kecemasan pada bentuk perilaku lain yang lebih positif.
  • Carilah sesuatu bidang yang dapat membuat kamu bisa lebih berprestasi, diperhatikan, dan disukai.
  • Tekanlah perasaan itu dengan alasan yang rasional dan utarakan di waktu yang tepat.
  • Carilah sebab yang “masuk akal” untuk menjelaskan kenapa hal ini terjadi pada kamu, ini untuk menghindari kecemasan yang tanpa alasan realistis.
  • Cobalah untuk menceritakan pada orang lain perasaan dan masalah kamu agar lebih jelas sebab yang menimbulkan kecemasan itu.

Menggalau tidak masalah bila dilakukan dalam jumlah yang minim, namun tidak dapat ditoleransi bila dilakukan berkali-kali dan sangat sering dilakukan. Sisi positif dari perilaku galau adalah belajar mengakui kelemahan kita dan berpasrah diri atas apa yang sudah kita usahakan. Masih ada tuhan yang memiliki rencana dan kuasa atas segalanya.

Mengenal Hipnotis Lebih Jauh

Hipnotis bayak digunakan dalam psikoterapi dan juga dibahas dalam ilmu psikologi. Sayangnya, banyaknya kasus kejahatan yang mengatasnamakan hipnotis membuat masyarakat makin resah. Bagaimana sebenarnya hipnotis itu?

Mari kita simak perbincangan dengan Erwin Eka Febriana Putra, President of Indonesian Hipnosis Association (IHA), sebuah organisasi profesi yang menghimpun hypnotist, hypnotherapist, dan hypnosis trainer di Indonesia. Muhammad Baitul Alim dari Psikologi Zone berkesempatan melakukan wawancara dengan beliau.

Berikut adalah petikan wawancara tersebut.

Banyak orang yang menganggap hipnotis dengan ilmu gaib untuk mempengaruhi seseorang. Apa sebenarnya definisi dari hipnotis itu?

Bila dipandang dari sisi keilmuan, hipnosis adalah ilmu yang mempelajari pengaruh sugesti terhadap pikiran manusia. Sedangkan dipandang dari sisi fenomena, Menurut U.S. Department of Education, Human Services Division; “Hipnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” – Hipnosis adalah penembusan filter mental pikiran sadar diikuti dengan tertanamnya suatu pemikiran/ide/sugesti yang dapat diterima.

Dan menurut saya pribadi Hipnosis atau biasa sering disebut hipnotis adalah: Sebuah metode komunikasi tertentu yang dipakai untuk mempengaruhi sesoerang sesuai dengan apa yang disugestikan. Sugesti sendiri merupakan suatu bentuk perintah, saran, ide atau nasehat. Oya, satu lagi mungkin banyak juga yang bertanya apa sih istilah yang tepat antara hipnosis ataukah hipnotis. Sebetulnya keduanya memiliki makna yang sama hanya saja mungkin penggunaan keduanya yang berbeda. Hipnosis adalah metode yang dipakai, sementara hipnotis adalah orang yang melakukan metode tersebut.

Perbedaan ilmu pengetahuan dengan “klenik” adalah dari penjelasan secara ilmiah teknik yang digunakan, bagaimana sebenarnya hipnotis itu bekerja?

Pernahkah anda membaca bahwa pikiran manusia sebenarnya terdiri dari beberapa bagian dan diantaranya adalah pikiran sadar (Conscious) serta alam bawah sadar (Subconscious). Keduanya memiliki fungsi dan karakteristik sendiri-sendiri namun memiliki peranan yang berbeda pada diri manusia. Alam bawah sadar lebih dominan dan dominasinya mencapai 9 kali lipat dibanding pikiran sadar. Pikiran sadar bersifat analitis, rasional dan logis sementara alam bawah sadar tidak begitu memiliki sifat seperti itu. Dan diantara pikiran sadar serta tidak sadar ada lapisan yang memblok setiap informasi yang masuk supaya tidak langsung ke alam bawah sadar yang notabene tidak begitu analitis. Lapisan ini disebut filter mental atau ada pula yang menyebutnya critical factor.

Jadi hipnosis adalah proses dimana filter mental beristirahat sementara waktu sehingga informasi atau katakanlah sugesti yang kita berikan masuk ke alam bawah sadar yang tidak begitu bersifat analitis, rasional dan logis tapi memiliki dominasi yang kuat terhadap tindakan kita. Maka dari itu ketika orang dalam kondisi hipnosis melakukan hal-hal yang aneh, tidak masuk akal dan terlihat misterius sebenarnya sama sekali tidak mengandung mistis didalamnya.

Apa semua orang bisa dihipnotis dan orang seperti apa kriteria orang yang bisa dihipnotis?

Banyak orang menganggap bahwa orang yang bisa dihipnotis adalah orang yang bodoh atau lemah pikirannya. Ini adalah anggapan yang salah. Faktanya, seseorang yang bisa dihipnotis adalah orang yang memiliki cukup kecerdasan, mampu berkonsentrasi dan bisa berimajinasi. Hipnosis tidak bisa diterapkan kepada orang gila, idiot, orang tuli, atau anak kecil yang belum bisa berkomunikasi dua arah. Semakin cerdas seseorang semakin mudah dihipnotis. Jadi, jangan gembira kalau Anda merasa tidak akan bisa dihipnotis.

Pada intinya sebenarnya semua orang yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dua arah dengan baik bisa dihipnotis. Atau bisa dikatakan semua manusia normal bukan anak kecil dan bukan orang gila bisa dihipnotis. Selama kita bisa berkomunikasi dengannya dan dia bersedia berkomunikasi dengan kita maka hipnosis bisa saja terjadi. Orang asing tidak bisa saya hipnotis jika saya tidak menguasai bahasa asing tersebut dan dia tidak mengerti bahasa yang saya pakai. Jadi ketika sesorang bersedia berkomunikasi dengan kita, kemudian Ia mau mebgikuti instruksi yang kita berikan dengan senang hati maka Ia dapat dihipnotis asal kita tahu caranya. Jadi tidak ada kriteria khusus seperti apa yang orang bisa dihipnotis asal dia mau dan bersedia serta tidak takut maka ia bisa dihipnotis.

Banyak orang yang salah mengerti fungsi hipnotis yang sebenarnya dan menganggap ilmu ini sebagai ilmu hitam. Apa saja sebenarnya fungsi dan manfaat hipnotis itu?

Tidak ada batasan mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan dengan hipnosis. Karena hipnosis adalah ilmu untuk meng-eksplorasi pikiran, sehingga hipnosis bisa berperan di hampir semua bidang kehidupan yang melibatkan pikiran manusia. Hipnosis bisa digunakan dalam dunia hiburan, pengobatan psikologis, kedokteran, penyelidikan, pemasaran, penjualan, pengembangan diri, meningkatkan kemampuan pikiran, eksperimen metafisika, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, kemudian terbentuklah cabang dalam keilmuan hipnosis antara lain:

  • Hipnoterapi (aplikasi hipnosis untuk mengatasi permasalahan psikologis dan membantu menyembuhkan permasalahan fisik).
  • Medical Hipnosis (aplikasi hipnosis di bidang kedokteran terutama untuk menghilangkan rasa sakit yang diderita pasien. Saat operasi, melahirkan, cabut gigi dll, bisa menggunakan hipnosis supaya tidak terasa sakit).
  • Hynosis Comedy (praktek hipnosis untuk keperluan hiburan sebagaimana kita lihat ditelevisi dan dipanggung-panggung hiburan).
  • Forensic Hipnosis (hipnosis yang dipakai oleh penyidik untuk membantu mengingat detail kejadian dan dipakai untuk saksi dan korban apabila mereka memiliki trauma yang dalam dan bukan dipakai untuk tersangka).
  • Metaphysical Hipnosis (aplikasi hipnosis yang bersifat eksperimental dan digunakan untuk meneliti fenomena metafisik seperti OBE, ESP, Clairvoyance. Silahkan searching di google tentang hal-hal tersebut bagi yang belum tahu).

Bagaimana penjelasan dari beberapa kasus kejahatan yang mengatasnamakan hipnotis, apa itu sebenarnya bukan teknik dari hipnotis, mohon dijelaskan?

Hipnosis bukanlah ilmu untuk menguasai pikiran manusia. Dalam kondisi hipnosis yang paling dalam sekalipun sesorang masih bisa menolak sugesti yang diberikan, meski tidak dipungkiri sebenarnya sugesti tersebut sangatlah kuat pengaruhnya. Dari berbagai kasus yang mengatasnamakan kejahatan hipnotis semuanya terungkap hanyalah sebagai penipuan biasa atau pembiusan. Korban yang tidak sadar saat kejadian menandakan bahwa Ia sebenarnya dibius karena hipnosis bukan berarti tidak sadar. Lantas kenapa banyak laporan kejahatan yang mengatasnamakan hipnotis. Latar belakang mereka tentu saja karena mereka tidak tahu apa dan bagaimana itu hipnotis. Selain itu anggapan bahwa dengan dihipnotis seseorang bisa dikuasai oleh orang lain, sehingga banyak yang melapor bahwa mereka telah dihipnotis padahal hanya penipuan biasa agar mendapat empati dari orang lain dan tidak terkesan bodoh telah ditipu.

Bila melihat pertunjukan hipnotis, terlihat mudah sekali seseorang untuk menghipnotis. Hanya dengan sentilan jari, orang akan langsung terhipnotis. Apakah hal itu benar demikian, apakah ada tingkatan dalam kemampuan menghipnotis seseorang?

Hal itu mudah saja terjadi dan benar adanya. Hanya saja yang perlu diingat adalah untuk kepentingan “berbuat iseng” dalam konteks hiburan dengan hipnosis maka kita tidak bisa asal memilih orang. Tidak semua orang mau kita kerjain. Biasanya dipilih terlebih dahulu siapa diantara mereka yang mau dikerjain dan memiliki mental yang cukup untuk ditertawakan dan dianggap bodoh. Ketika kita mendapati orang yang mau mengikuti instruksi kita atau mau dikerjain, maka dengan sentilan jari saja Ia pasti mudah untuk terhipnotis sesuai instruksi kita.

Mungkin ada yang bertanya tapi biasanya tidak ada proses pemilihan penonton dalam pertunjukkan atau tayangan tersebut. Itulah hiburan ada proses editing atau persiapan sebelum pertunjukkan yang tidak anda ketahui. Dan hal itu sah-sah saja dalam dunia hiburan, yang penting para penonton terhibur itu tujuan utamanya. Selain itu sebetulnya cukup mudah bagi para Hipnotis yang sudah malang melintang dilayar kaca nasional untuk mencari “korban” praktek hipnosis mereka. Karena ketika dia datang sementara sudah dikenal sebagi tukang Hipnotis dan membawa serta beberapa kamera lantas orang yang didatangi bersedia padahal pastinya sudah tahu akan dihipnotis maka pada prakteknya pasti akan sangat mudah untuk menghipnotis orang tersebut.

sumber: psikologi zone

Bagaimana Memotivasi Orang Lain

Prinsip Dasar Memotivasi Orang Lain
Tentang bagaimana kita memotivasi diri sendiri, ini sudah sering kita bahas di sini. Ada pertanyaan kayak begini, berbedakah antara kita memotivasi diri sendiri dan memotivasi orang lain? Dalam beberapa hal, ada kesamaan. Sebagai manusia (human kind), semua manusia itu sama. Tapi sebagai person (individu), setiap orang itu punya perbedaan. Perbedaan di sini mencakup perbedaan yang dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal. Karena itu, dalam hal memotivasi pun berlaku prinsip kesamaan dan perbedaan itu.
Menurut pandangan teori kompetensi, kalau kita baru bisa memotivasi diri sendiri, itu memang sudah bagus. Tapi akan lebih bagus lagi kalau kita bisa memotivasi diri sendiri dan bisa pula memotivasi orang lain. Konon, menurut naluri manusia, setiap orang itu sebetulnya ada panggilan jiwa untuk memotivasi orang lain. Bentuknya antara lain: kita tidak suka melihat hidup orang lain tidak bergairah, malas-malasan, ogah-ogahan, dan semisalnya. Bentuknya lagi, kita merasa happy ketika sedang diminta masukan tentang kehidupan orang lain atau juga kita merasa lebih suka melihat orang lain yang aura hidupnya memancarkan keoptimisan, keteguhan, dan kedinamisan.
Meskipun sebenarnya orang lain itu butuh motivasi dari orang lain juga dan kita pun merasa happy melakukannya, tapi kejadian dalam prakteknya tidak seindah yang kita gambarkan di sini. Kejadian yang kita dapati di lapangan bisa bermacam-macam. Misalnya ada yang mengatakan, saya sudah capek ngasih masukan ke si dia. Sudah berbusa rasanya mulut ini, tapi tetap saja begitu. Yang lain mengatakan, dia berubah setelah dikasih masukan, dan setelah itu kembali lagi ke adatnya yang lama. Yang lain lagi punya pengalaman lebih buruk. Si dia lebih memilih defensif, ngeyel dan lebih cenderung menolak masukan dari orang lain.
Teorinya, setiap orang itu pasti bisa dimotivasi. Karena itu, teori motivasinya mengenal istilah sumber motivasi yang ekstrinsik dan intrinsik. Sumber motivasi ekstrinsik itu mencakup: perubahan keadaan, lingkungan, atau orang lain. Sedangkan yang intrinsik itu adalah dirinya sendiri, misalnya keinginan untuk mendapatkan atau menghindari sesuatu. Semua orang pada dasarnya punya sumber motivasi intrinsik ini. Dalam teori umum tentang manusia dikatakan, setiap manusia itu punya empat kapasitas, yaitu: a) kapasitas fisik / material, b) kapasitas daya mempertahankan / memperbaiki hidup, c) kapasitas intelektual, dan d) kapasitas kalbu / hati / emosi.
Dalam prakteknya, hubungan antara sumber ekstrinsik dan intrinsik itu pada umumnya saling terkait. Artinya, seseorang akan mudah termotivasi oleh sentuhan-sentuhan yang di luar dirinya apabila orang itu mengaktifkan sumber intrinsiknya. Sebaliknya, seseorang akan semakin tidak mudah tersentuh oleh motivasi ekstrinsik sejauh motivasi intrinsiknya belum aktif. Bahkan, pada batas yang paling ekstrim (yang sifatnya sangat eksepsional dan individual) sering ditemukan bahwa orang tidak akan termotivasi oleh berbagai bentuk sentuhan eksternalnya ketika orang itu menon-aktifkan sumber internalnya.
Karena itu, baik dalam kisah kenabian atau kisah manajemen, tetap dikenal istilah “keterbatasan toleransi”. Ada seorang nabi yang dicontohkan oleh Tuhan “tidak sanggup” mengubah pendirian anaknya sampai pada batas yang benar-benar final. Ada juga yang dicontohkan tidak bisa mengubah keluarga atau orangtuanya. Manajemen pun begitu. Ada orang yang sampai harus diberhentikan karena sudah benar-benar tidak bisa diperbaiki dengan fasilitas dan instrumen yang ada. Sudah dikasih masukan, sudah dikasih teguran, sudah dikasih segala-galanya, tapi hasilnya nol.
Belajar dari fakta-fakta itu berarti ada sekelompok orang yang memang bisa menerima motivasi dari luar (ekstrinsik) secara langsung dan langsung diinternalisasikan ke dalam dirinya (intrinsik), ada yang menolaknya lebih dulu lalu menerima, ada yang lamban menerima, ada yang menerima pakai kuping kanan dan langsung dikeluarkan pakai kuping kiri, ada yang benar-benar menolak sampai Tuhan sendiri yang harus menyadarkan dengan mendatangkan realitas baru. Dan masih banyak lagi tipe manusia itu.
Dari persoalan yang pelik tentang manusia itu kemudian lahirlah pengakuan dalam teori motivasi. Pengakuan itu adalah, setiap orang itu memang punya dua sumber motivasi, yaitu: dari luar dan dari dalam. Tapi, sumber yang hakiki adalah sumber dari dalam (intrinsik). Sumber dari luar bersifat mendukung, sementara sumber dari dalam bersifat menentukan. Karena itu, jika kita memotivasi orang, yang perlu kita motivasi bukan tindakannya semata (only to motivate action), melainkan memotivasi orangnya untuk mengaktifkan sumber motivasi intrinsiknya (the people). Inilah yang disebut prinsip dasar itu.

Mengukur Motivasi Seseorang
Konsep manajemen yang kita pakai sekarang ini mengenal dua ukuran motivasi. Pertama adalah ukuran kuantitatif yang didasarkan pada hasil kerja. Jika si A berhasil menjual barang ke lima puluh orang dalam sebulannya, sementara si B hanya mampu sepuluh, maka secara kuantitatif, si A lebih tinggi motivasinya. Ini fakta yang berbicara. Kedua adalah ukuran kualitatif. Jika si A bekerjanya selalu menunggu perintah atau hanya sesuai dengan job desc, sementara si B bekerjanya melampui job description itu (beyond job description), berarti si B (secara kualitatif) punya motivasi jauh lebih bagus.
Kalau menelaah teori motivasi yang digagas ilmu pengetahuan dan agama, indikator tinggi-rendahnya motivasi seseorang itu terletak pada kemana ia membangun dependensi (kebergantungan). Semakin kuat seseorang menggantungkan sumber motivasinya pada faktor eksternal berarti semakin rendah. Sebaliknya, semakin kuat seseorang menggantung sumber motivasinya pada faktor internal berarti semakin kuat.
Ini bisa kita lihat misalnya saja pada teori kompetensi dalam manajemen. Orang yang motivasinya rendah adalah orang yang baru melakukan sesuatu hanya berdasarkan apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang oleh job-desk atau atasannya. Maksudnya di sini miskin inisiatif untuk menyempurnkan, menginovasi atau memperbaiki performansi. Agak dibilang tidak lebih rendah adalah orang yang sudah punya dorongan untuk menginovasi atau mengimprovisasi tugas-tugasnya namun dengan cara yang kurang efektif atau kurang efisien atau bertentangan dengan nilai-nilai organisasi (ngawur). Yang paling tinggi adalah orang yang punya dorongan atas dasar inisiatif, efektif, efisien dan sinkron dalam memilih cara, serta menghasilkan kinerja yang lebih bagus.
Dalam Psikologi pun begitu. Kita bisa lihat ini ke teorinya Abraham Maslow itu. Semakin kuat seseorang menggantungkan sumber motivasinya pada kebutuhan fisiologis (perut, kalkulasi ekonomi jangka pendek, dst) berarti semakin rendah. Sebaliknya, semakin kuat seseorang menggantungkan sumber motivasinya pada kebutuhan psikologis (mengembangkan potensi, aktualisasi diri, dst) berarti semakin tinggi.
Wah, mana ada orang yang tidak menggantungkan sumber motivasinya pada kebutuhan fisiologis? Kan dia butuh makan, butuh kendaraan, butuh membeli susu anak-anaknya, butuh ini dan butuh itu? Memang dia malaikat? Maksudnya tentu bukan seperti itu. Ini adalah soal bagaiman seseorang memilih konsentrasi pikiran. Orang yang berkonsentrasi pada kebutuhan psikologis pun butuh motivasi fisiologis, namun tidak mengandalkannya sebagai faktor tunggal atau yang paling utama dan satu-satunya. Dengan begitu perspektifnya tentang motivasi jauh lebih luas dan sehingga langkahnya tidak mudah dipatahkan oleh kendala yang terkait dengan kebutuhan fisiologis. Karena itu, dalam prakteknya, semakin kuat seseorang menggantungkan sumber motivasinya pada kebutuhan psikologis (aktualisasi-diri) semakian secara otomatik kebutuhan fisiologisnya terpenuhi sendiri.
Agama pun punya ukuran yang sama. Semakin kuat seseorang mengandalkan dirinya sebagai bekal untuk menuju Tuhan (beriman) semakin tinggilah motivasinya. Inilah yang sering disebut keikhlasan dalam beribadah (pengabdian). Sebaliknya, semakin kuat seseorang mengandalkan Tuhan dan nasib, sampai-sampai “kapasitas dirinya” hilang, justru semakin rendah. Menurut petunjuk agama, orang yang motivasinya bagus adalah orang yang mengandalkan potensi dan kapasitas dirinya untuk berkreasi dan tetap mematuhi rambu-rambu Tuhan.
Contoh lainnya bisa kita lihat dalam konsep pengembangan karir. Semakin kuat seseorang mengandalkan keamanan karirnya pada pekerjaan, perusahaan, atau seseorang maka semakin rendahlah motivasinya dan keamanannya. Ini yang disebut job-based security. Sebaliknya, semakin kuat seseorang menggantungkan keamanan karirnya pada usahanya dalam mengembangkan karirnya itu maka semakin tinggilah motivasinya dan keamanannya. Inilah yang disebut people-based security.
Contoh lainnya lagi bisa kita lihat ke konsep perbaikan harga-diri (self-esteem) dalam Psikologi. Semakin kuat seseorang menggantungkan harga dirinya pada penilaian dan perlakuan eksternal, justru semakin rendah harganya. Lebih-lebih lagi kalau sampai menggantungkan harga diri itu pada obat-obatan atau narkoba. Ini malah bisa hilang total. Orang yang harga dirinya dijamin akan bagus adalah orang yang punya penilaian positif, punya perasaan positif, punya agenda positif dan menjalankannya untuk mempositifkan hidupnya.
Nah, jadi untuk mengukur tinggi rendahnya motivasi seseorang dalam melakukan kebaikan, baik itu di tempat kerja atau lainnya, kita bisa memakai ukuran abstraktif di atas.

Beberapa Pendekatan Dalam Memotivasi
Karena orang itu bermacam-macam, tentu butuh pendekatan yang bermacam-macam pula. Tiga masalah pokok yang perlu dilihat di sini adalah: a) ke siapa-nya, b) ke konteksnya, dan c) ke tujuannya. Memotivasi orang yang motivasinya rendah (ekstrinsik) tentu berbeda dengan memotivasi orang yang sudah tinggi motivasinya. Memotivasi orang dalam konteks sebagai individu (person) tentu berbeda dengan ketika konteksnya adalah massal, kolektif atau sosial (public). Memotivasi orang untuk tujuan jangka pendek (short task-oriented) tentu berbeda juga dengan memotivasi untuk tujuan jangka panjang (long achievement-oriented).
Secara umum, beberapa pendekatan yang bisa kita pilih (tentu dengan memperhatikan tiga hal di atas) adalah sebagai berikut:
Pertama, pembaharuan (P1): penjelasan baru, pengkondisian baru, perubahan baru, penyadaran baru, dan lain-lain. Terkadang seseorang mengalami keloyohan kerja karena sudah bosan dengan hal-hal yang dirasakan itu-itu saja. Karena itu butuh sentuhan hal-hal baru. Ini bisa dilakukan dari mulai yang paling gratis sampai ke yang paling mahal. Yang gratis misalnya saja: meeting mingguan, penjelasan langsung, coaching and conseling, training, ceramah, dan lain-lain.
Kedua, pentargetan / pelibatan (P2): tugas baru, deadline baru, sasaran baru, dan lain-lain. Terkadang orang juga bisa loyal karena tugas-tugasnya kurang menantang. Teorinya, kalau orang itu dikasih tugas terlalu sedikit atau terlalu tidak menantang, motivasinya lemah juga. Tapi, jika dikasih yang terlalu tinggi, ini berpotensi menimbulkan stress kerja juga. Jadi, berilah sedikit demi sedikit dan bertahap, disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuannya. Akan jauh lebih bagus jika diiringi dengan pelibatan dalam perumusan target dan keputusan.
Ketiga, peringatan (P3): memberikan perintah dan larangan lalu diiringi dengan menjelaskan konsekuensinya. Peringatan ini bisa dilakukan dari mulai yang paling soft sampai ke yang paling hard. Ini mungkin cocok untuk sebagian orang dalam konteks tertentu, tapi bisa jadi gagal untuk orang yang berbeda dengan konteks yang berbeda.
Keempat, penilaian (P4): memberikan penilaian kinerja, evaluasi, koreksi, supervisi, dan lain-lain dengan menjelaskan sisi-sisi plus dan sisi-sisi minus (yang perlu diperbaiki) secara fair. Ketimbang kita marah yang tidak jelas saat menjumpai kesalahan, akan lebih bagus kalau kita melakukan evaluasi. Kemarahan yang tidak jelas kerapkali mendapatkan reaksi penolakan. Penolakan ini ada yang sifatnya reaksi fisik (ucapan atau sikap) dan ada yang sifatnya batin (tidak rela menerima, defensif).
Kelima, penghargaan (P5): memberikan peluang kemajuan, memberikan bonus, gaji, insentif, memberikan jabatan atau posisi, kekuasaan, pengembangan, dan lain-lain. Dalam konteks perusahaan, penghargaan ini bisa menjadi motivator asalkan diberikan dengan kadar yang pas, ke orang yang tepat dan diarahkan untuk mencapai sasaran yang tepat. Tapi akan sebaliknya bila salah. Ini misalnya kita menghargai orang yang rendah motivasi kerjanya dengan penghargaan yang sama dengan orang yang tinggi. Lebih-lebih lagi jika kita membiarkan orang yang rendah motivasinya (tanpa teguran, tanpa target, dst), sementara kita kurang peduli (careless) dengan orang yang motivasinya tinggi.
Itulah sebagian dari sekian pendekatan yang bisa kita tempuh. Tentu saja, untuk mengetahui keadaan seseorang dan pendekatan apa yang tepat, inipun tidak semudah membalik tangan. Lagi pula, keadaan seseorang itu dinamis. Karyawan baru itu pasti umumnya semangat karena kebutuhannya akan keamanan dan harga diri (terbebas dari pengangguran) terpenuhi. Tapi begitu setahun berlalu, dinamika jiwanya menuntut perubahan baru, misalnya: ingin gaji lebih tinggi, ingin diperlakukan lebih Ok, dan lain-lain. Jika kita masih menggunakan pendekatan lama yang itu-itu juga, biasanya ini kurang efektif.
Karena itu, kalau mengacu pada konsep Reward Management, akan lebih powerful jika kita memakai pendekatan yang komprehensif, dari mulai fisiologis dan psikologis. Ini bisa mengacu pada teorinya Abraham Maslow tentang Hirarki Kebutuhan atau pakai kelima pendekatan di atas secara bersamaan dengan memperhatikan keadaan.
Yang lebih penting dari semua itu adalah memberikan penjelasan, entah itu by verbal atau by non-verbal, yang bisa mengantarkan seseorang untuk mengaktifkan sumber motivasi intrinsiknya. Sebab, inilah yang menjadi penentu! Semoga bermanfaat.

Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 18 Desember 2007
Sumber: http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=467

MENELUSURI HAKIKAT SEHAT DAN SAKIT

Oleh Thobib Al-Asyhar
(Mahasiswa Program Doktor Psikologi Islam UIN Jakarta)

Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit.
Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.

Pengertian
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah otrang yang sehat, dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik[2], mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial.
Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada.[3]
Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.Keempat dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).
b.Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan setrusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut.
c.Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.
d.Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.[4]
Sebagai kebalikan dari keadaan sehat adalah sakit. Konsep “sakit” dalam bahasa kita terkait dengan tiga konsep dalam bahasa Inggris, yaitu disease, illness, dan sickness. Ketiga istilah ini mencerminkan bahwa kata “sakit” mengandung tiga pengertian yang berdimensi psikososial. Secara khusus, disease berdimensi biologis, illness berdimensi psikologis, dan sickness berdimensi sosiologis. (Calhoun, dkk, 1994).
Disease penyakit berarti suatu penyimpangan yang simptomnya dikatahui melalui diagnosis. Penyakit berdimensi biologis dan obyektif. Penyakit ini bersifat independen terhadap pertimbangan-pertimbangan psikososial, dia tetap ada tanpa dipengaruhi keyakinan orang atau masyarakat terhadapnya, seperti tumor, influensa, AIDS dan lain-lain.
Illness adalah konsep psikologis yang menunjuk pada perasaan, persepsi, atau pengalaman subyektif seseorang tentang ketidaksehatannya atau keadaan tubuh yang dirasa tidak enak. Sebagai pengalama subyektif, maka illness ini bersifat individual. Seseorang yang memiliki atau terjangkit suatu penyakit belum tentu dipersepsi atau dirasakan sakit oleh seseorang tetapi oleh orang lain hal itu dapat dirasakan sakit.
Sedangkan Sickness merupakan konsep sosiologis yang berakna sebagai penerimaan sosial terhadap seseorang sebagai orang yang sedang mengalami kesakitan (illness atau disease). Dalam keadaan sickness ini orang dibenarkan melepaskan tanggung jawab, peranm atau kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukan saat sehat karena danya ketidaksehatannya.Kesakitan dalam konsep sosiologis ini berkenaan dengan peran khusus yang dilakukan sehubungan dengan perasaan kesakitannya dan sekaligus memiliki tanggung jawab baru, yaitu mencari ksembuahn.
Karena pengertian “sakit” itu dapat berdimensi subyektif-kulturalistik, maka setiap masyarakat memiliki pengertian sendiri tentang sakit sesuai pengalaman dan kebudayaannya. Peran sakit hanya dilakukan dan diakui oleh masyarakatnya jika sesuai dengan pertimbangan nilai, keyakinan dan norma sosialnya.[5]

A. Sudut Pandang Metafisika/Fisik

Dari sudut pandang fisika dan kajian metafisika telah dihipotesiskan bahwa “titik” hubungan antara Khalik dan makhluk adalah bion, berupa timbunan daya (energi) yang menjadi pembawa hayat. Dugaan ini telah diungkapkan oleh dokter Paryana Suryadipura dalam bukunya Manusia dengan Atomnys dalam Keadaan Sehat dan Sakit. Perkataan bion itu berasal dari kata bio-ion yang artinya ion yang hidup, yang dengan perkataan lain disebut bio-elektricitet. Dalam bahasa Sansekerta dinamakan prana, dan dalam bahasa Arab disebut ruh.
Semua fungsi hayati dilaksanakan oleh bion yang dilepaskan oleh badan rohani yang dikenal dengan jismul latifah, yang dalam istilah metafisika disebut tubuh bioplasmatik. Energi ruh itu mengalir ke dalam tubuh kasar melalui pusaran energi yang disebut cakra.Choa Koh Sui, dalam bukunya, The Ancient Science and Art of Pranic Healing, menjelaskan panjang lebar mengenai cakra ini; begitu pula Ric A. Weinman dalam bukunya, Your Hands Can Heal, Learn to Channel healing Energi. Dari kajian mereka, dapat disimpulkan, ada tujuh cakra mayor yang merupakan kompenen utama dari tubuh elektrik manusia, yaitu cakra dasar, cakra seks, cakra solar plexus, cakra jantung, cakra tenggorokan, cakra alis, dan cakra mahkota.
Cakra Dasar
Cara ini merupakan cakra kelangsungan hidup yang terletak di dasar tulang punggung. Cakra ini berfungsi mengatur keberadaan fisik dan naluri kelangsungan hidup, karena itu rasa takut mati muncul di sini. Cakra ini mempengaruhi kelenjar adrenal, ginjal, kandung kemih, dan semua organ yang berkaitan dengan rasa takut. Bila hidup selalu merasa aman dan terjamin maka cakra ini akan bercahaya terang. Akan tetapi, kalau cakra ini redup, maka akan timbul penyakit pada fisik, di antaranya kanker, leukimia, mudah alergi, vitalitasi rendah, lemah syahwat, anemia, dan gangguan psikologis.
Cakra Seks
Cakra ini tidak hanya bertugas membangkitkan gairah keasmaraan tetapi juga semua bentuk hubungan intim dan emosi antarpribadi. Cakra ini sangat berpengaruh pada ketenangan dan kedamaian perasaan yang bertempat di atas tulang kemaluan. Jika seseorang merasa terangsang secara seksual, banyak energi bergerak menuju dan memancar dari cakra ini. Cakra ini juga terlibat dalam sistem reproduksi. Jika terdapat hambatan di sini, cakra ini pada akhirnya akan mempengaruhi organ seksual, klenjar prostat, dan daerah panggul sekitarnya.
Cakra Solar Plexus
Cakra ini merupakan pusat keinginan dan kemauan pribadi, bertempat di daerah perut. Karena itu, stres mental, emosi dan semua permasalahan timbul karena desakan keinginan atau kemauan, seperti frustasi, marah, persaingan, pertahanan diri, cemas bahkan kebencian. Ketegangan yang diakibatkan oleh hal-hal tersebut dapat mempengaruhi lambung, hati, kandung empedu, terutama kelenjar pankreas. Maka kegagalan cakra ini dapat menimbulkan sakit lever, kencing manis, maag, dan macam-macam penyakit yang disebabkan oleh kadar asam urat tinggi.
Cakra Jantung
Cakra ini merupakan tempat cinta spiritual tanpa pamrih. Cinta asmara yang emosional meluap dari cakra kedua yang beresonansi dengan cinta spiritual. Bila cakra keempat ini terbuka, maka energinya akan beresonansi dengan cakra yang yang lebih tinggi, dan bila ada hambatan maka akan meluap rasa asing diri, rasa benci diri akibat trauma emosional yang dalam. Sebaliknya cakra ini mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, dengan cara melepaskan emosional itu. Terhadap badan fisik cakra ini mempengaruhi kelenjar thymus yang terletak dekat cakra ini, yaitu di sekitar jantung. Cakra inilah yang pertama-tama berhubungan dengan aspek spiritual. Kegagalan cakra ini dapat menimbulkan sakit jantung yang berhubungan dengan peredaran darah.
Cakra Tenggorokan
Cakra ini terletak di dasar tenggorokan yang mengendalikan kreatifitas, komunikasi, dan kemampuan waskita. Banyak para medium yang dapat menerima berita kegaiban lalu menginformasikan melalui cakra ini. Cakra ini mempengaruhi kelenjar tiroid dana paratiroid yang memproduksi hormon tiroksin yang penting untuk pertumbuhan, serta melancarkan kerja susunan saraf; juga hormon parathormon yang berfungsi merangsang pengeluaran kalsium dari dalam tulang. Kurang berfungsinya cakra ini, dapat menimbulkan penyakit gondok, suara serak, dan sesak napas (asma), yaitu penyakit yang menghambat kemunikasi/informasi.
Cakra Alis
Cakra yang mengendalikan pewaskitaan dan persepsi psikis ini merupakan pintu penerima getaran dari alam gaib. Karena itu, cakra ini dianggap sebagai “mata batin” atau “mata ketiga”. Ada juga yang memberinya istilah “mata indera keenam”. Terhadap tubuh fisik, cakra ini mempengaruhi kelenjar pituitary dan pineal. Kurang berfungsinya cakra ini, dapat menimbulkan penyakit kanker, alergi, dan sebagian penyakit yang berhubungan dengan kelenjar endokrin.
Cakra Mahkota
Cakra ini terletak di atas puncak kepala. Bila cakra ini penuh energi, pusarannya akan membesar melingkari kepala seperti mahkota. Para ahli metafisikan menganggap cakra ini merupakan yang tertinggi; energinya dapat menangkap getaran intelegenci universal. Dengan cakra inilah para nabi menerima wahyu. Energi cakra ini dapat dipakai untuk penyembuhan telepatik. Kekurangan energi pada cakra ini dapat menyebabkan sakit gangguan jiwa.
Demikianlah fungsi cakra- cakra tersebut yang erat hubungannya dengan jasmani dan ruhani. Dengan analisis ini, dapat terjawab pertanyaan tentang mengapa manusia itu sakit.[6]
Dalam perspektif reiki sufistik, cakra-cakra merupakan pintu gerbang spirtual yang harus dibersihkan dan diselaraskan agar mampu menatik energi ilahi untuk melakukan evolusi spiritual. Setap cakra memiliki potensi-potensi psikospirtual yang jika berkembang maka akan bermanfaat dalam peningkatan kesehatan tubuh fisik, ketenagan (muthmainnah) tubuh psikis, keseimbangan mental (tawazun) dan kesempurnaan spiritual (insan kamil). Praktik reiki sufistik merupakan salah satu praktik spirtual menarik energi ilahi untuk pembersihan dan penylelarasan cakra-cakra sebagai basis bagi peninbgkatan kualitas manusia, baik sebagai khalifah fil ardl yang harus memiliki ketangguhan mengelola alam maupun sebagai ‘abd (hamba) yang harus menyembah-Nya dengan kesungguhan.
Cakra-cakra merupakan pusat aktivitas manusia. Masing-masing cakra memilki kemampuan psikis yang luar biasa. Sebagai pusat aktivitas manusia, cakra akan sangat menentukan pola-pola dan bentuk-bentuk aktivitas manusia. Cakra yang bersih akan mendorong keyakinan yang lurus (al-aqidah al-hanafiyah), Syariah yang benar (as-Syariah al-Shahihah) dan moralitas luhur (al-akhlaqul karimah). Begitu juga sebaliknya, cakra yang kotor akan menyebabkan manusia berperangai buruk (al-akhlaqul madzmumah). Cakra yang bersih akan senantiasa berhubungan dengan cahaya, sebaliknya kegelapan akan menjadi karakter manusia yang cakra-cakranya kotor, sehingga terjatuh dalam kehidupan binatang ternak (nafsu syahwatiyyah), binatang buas (nafsu ammarah) atau bahkan kehidupan setan (nafsu syaithaniyyah).
Di dalam reiki sufistik, istilah cakra biasa disebut dengan lathifah (sesuatu yang lembut), karena memang cakra bersifat halus (bukan organ tubuh fisik). Lathifah (organ-organ lembut) sifatnya halus dan tidak empiris.[7]
Di dalam tubuh manusia terdapat cakra mayor, cakra minir dan cakra mini yang secara keseluruhan terdapat 365 cakra. Ada juga yang menyebutkan jumlah cakra secera keseluruhan termasuk cakra-cakra yang mini sebanyak 88.000. Tetapi cakra-cakra yang efektif mengendalikan dan memberi energi kepada organ vital dan organ mayor tubuh manusia hanya 7 (tujuh) cakra seperti yang telah disebut diatas, yang sering disebut sebagai cakra mayor.[8]
Sedangkan, sehat dan sakit dilihat dari sudut pandang fisika dikatakan bahwa di Matahari, setiap terjadi letupan yang berakibat bertambahnya tekanan elektronis di alam. Bila tekanan itu mengenai bumi, akan timbul kegoncangan elektrostatika, sehingga lapangan magnetik teganggu, telegram diterima dengan tidak jelas, penrimaan radio terganggu, udara bergesek menjadi petir, udara naik dan dingin lalu jadi hujan, badai bertiup maka laut bergelombang , dab banyak lagi akibat lain yang tidak disebutkan. Ini semua disebabkan oleh tekanan elektron. Badai elektron yang melanggar dunia sebagai akibat letupan di matahari dinamakan catalysmen. Badai elektron itu disebut cylon. Tekanan elektron ini tidak hayan mempengaruhi alam, benda, tetapi juga jiwa menusia, karena di dalam diri manusia juga ada elektron. Hal itu dapat mengakibatkan zat colloid –yang merupakan lendir itu—menjadi beku, sehingga kuman penyakit akan berkembang biak di atasnya.
Memang setiap orang membawa berjuta bakteri dan virus berbagai jenis dinatas kulitnya, namun tidak semua jadi sakit karenanya. Sebab, datangnya penyakit itu sering terjadi akibat ketidakseimbangan antara elektron dari luar diri. Seperti, atmosfer yang lembab akan menjadi pengantar listrik yang dapat mengambil banyak elektron dari permukaan kulit, yang akan menimbulkan kegoncangan pada keseimbangan daya listrik pada kulit/organ tubuh, terutama otot. Akibatnya, timbul penyakit reumatik. Melalui kaki basah, seseorang dapat kehilangan elektron sehingga menimbulkan penyakit, misalnya penyakit nephritis dan cytitis.Bagaimana mengupayakan agar energi yang mengalir di dalam saraf yang halus itu berjalan dengan ukuran tekanan yang normal? Bagaimana jalan yang telah ditemukan tinggal memilih mana yang lebih tepat untuk diri kita maisng-masing.[9]
B. Sudut Pandang Biologi
Kita sudah mengetahui bahkan akal pikiran dan emosi menusia selalu berubah-ubah dari hari ke hari, dari jam ke jam, malah dari menit ke menit. Hari ini seseorang merasa berduka yang dalam, tapi esoknya ia sudah senang, gembira, tapi satu jam berikutnya ia sudah optimis malah ada yang patah semangat. Apa penyebab semua perubahan ini?
Tidak lain karena terjadi perubahan hormon yang merupakan unsur dasar dalam harmonisasi kesadaran dan perasaan hati manusia. Penyakit gila[10] –sering dianggap akibat kelainan jiwa atau gangguan saraf—disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Kadangb kekurangan atau kelebihan hormon, misalnya kekuarangan adrenalin dan kelebihan noradrenalin, kekuarang hormon yang diproduksi kelenjar seks, mungkin pula kelenjar hypopise atau epifise yang gagal, bisa terjadi perubahan tingkah laku atau kelainan fisik. Ada jenis hormon lain yang dikeluarkan oleh adrenal –disebut kortizon— yang berfungsi mempersiapkan tubuh untuk melawan kelesuan. Kalau hormon ini tidak diproduksi, seseorang akan merasa tererangkap dalam kelesuan yang berkepanjangan dan tidak dapat diatasinya. Kalau diusut, mengapa kelenjar ini bisa gagal? Tidak lain karena kelenjar ini terlalu letih bekerja. Misalnya, jika tubuh kita mendapat tekanan dalam jangka waktu yang lama, maka kelenjar adrenal mendapat tugas yang berat memproduksi kebutuhan tubuh yang mendesak ini; lama kelamaan ia menjadi cape dan gagal. Apabila kelenjar ini gagal melaksanakan tugasnya, hidup menusia akan terancam bahaya, yang berarti malapetaka akan mengintai.
Kalau kita usut lagi, siapa pula ang megontrol pekerjaan kelenjar ini? Yang mengntrol ini adalah sifat keturunan yang terdapat di dalam gen yang ada dalam sel. Sel sebagai satuan hidup dasar makhluk hidup terdiri atas sitoplasma yang di tengah-tengahnya terdapat sel initi. Inti sel ini mengandung suatu jaringan dan pada jaringan inilah terdapat “gen” (pembawa sifat keturunan). Gen-gen terdapat dalam persenyawaan kimia yang stabil: disiniulah tersimpannya “rahasia kehidupan yang penuh misteri”. Persenyawaan kimia gen ini merupakan disket yang didalamnya telah terpogram sifat bawaan manusia, apakah ia pengecut, pemberani, berhati mulia, berandalan, kuat atau lemah. Persenyawaan kimia ini dinamai Deoxrybo Nucleat Acid (DNA).
Sifat berani ditimbulkan oleh kadar hormon noradrenalin yang tinggi dengan sedikit adrenalin; sifat penakut adalah kebalikannya. Tinggi rendahnya kadar hormon ini bergantung pada perintah yang dikeluarkan oleh sifat keturuan dan jenis DNA yang terdapat dalam inti sel. Molekul-molekul DNA ini tersusun dari gula, asam fosfor, dan empat macam jenis basa: adenin, sitosin, guanin dan tiamin. Kempatnyua tersususn dalam dua buah pita berbentuk spiral. Pita-pita itu sendiri terbuat dari gula dan fosfor lalu basa tadi terlekat di sana. Jadi, bagian terkecil dalam tubuh kita adalah molekul DNA yang menghasilkan eplika dirinya. DNA memulai prosesnya dengan membuka resleting tubuhnya.
Semua jaringan hidup tersebut terbuat dari asam amino yang membentuk protein. Protein merupakan kombinasi dari kira-kira dua puluh asam amino; perbedaan-perbedaan jenis protein itu hanyalah perupakan perbedaan kombinasi yang diuntai dalam susunan tertentu. DNA-lah yang menentukan susunan itu.
Jadi, cakra-caka tertentu merupakan distributor-distributor tubuh rohani yang bertugas mendistribusikan energi untuk kelenjar tertentu di tubuh fisik. Kelenjar bekerja untuk memproduksi hormon di bawah kontrol gen. Di dalam gen terdapat persenyawaan kimia yang stabil yang dinamai DNA. Jadi hidup kita secara keseluruhan adalah hasil dari proses kimia belaka.[11]
Para Penguasa di Kerajaan Tubuh
Kalau dalam tubuh manusia terjadi keadaan yang tidak normal –-seperti cebol—pertumbuhan melebihi normal, atau seorang perempuan tiba-tiba menjadi gemuk, cepat menjadi tua, gerak-geriknya yang nervous, dagu seorang perempuan ditumbuhi jenggot atau tanda kelaki-lakian, itu menunjukkan adanya ketidaknormalan proses kimia tubuh atau produksi hormon tertentu yang tidak normal karena kegagalan kelenjar.
Akhir-akhir ini, para ahli telah berhasil menemukan berjenis-jenis kelenjar hormon yang terdapat dalam tubuh manusia. Kelenjar-kelenjar hormon ini memproduksi hormon yaitu zat khusus yang merupakan persenyawaan kimia hasil produksi kelenjar tubuh yang berfungsi mengatur berbagai proses kimia jaringan organ tubuh. Di antara sekian banyak kelenjar di dalam tubuh manusia, ada tujuh yang utama, yaitu sebagai berikut:

1.Kelenjar pituitary, disebut juga kelenjar hipofise atau kelenjar lendir. Fungsi kelenjar ini adalah: mengatur kegiatan kelenjar tiroid; mengatur sekresi dari kelenjar adrenal; mengatur sekresi kelenjar pembiakan; mengatur pertumbuhan tubuh pada umumnya; mengatur jumlah air yang dibunagn ginjal; merangsang produksi susu ibu, dan merangsang kontraksi rahim pada waktu melahirkan.
2.Kelenjar tiroid, berfungsi sebagai berikut: Mengatur kecepatan dalam mengubah makanan jadi panas dan tenaga di dalam sel; Membantu pertumbuhan agar normal dan melancarkan kerja susunan saraf. Kelenjar ini terletak di bagian leher;
3.Kelenjar paratiroid, yang berfungsi merangsang pengeluaran kalsium dari dalam tulang dan mengatur kadar kalsium di dalam darah. Kelenjar ini juga terletak di bagian leher;
4.Kelenjar adrenal, berfungsi: memperkuat hasil tanggapan susunan saraf terhadap perangsangan takut , marah atau gembira; Melawan rasa tertekan dan kegoncangan jiwa; Mengatu kesimbangan garam dan air dalam darah. Kelenjar ini terdapat di atas anak ginjal yang peranannya sebagai komandan pada komando strategi di dalam kerajaan tubuh. Karena itu, hubungannya sangat erat dengan panglima tertinggi kelenjar pituitary.
5.Kelenjar pankreas, berfungsi: mengatur penggunaan glukosa dalam tubuh; menghasilkan enzim-enzim pencernaan. Kelenjar ini terdapat pada bagian kanan belakang lambung.
6.Kelenjar limfoid (getah bening), berfungsi dalam: Menghasilkan antibodi (protein pembunuh) yang menolong mengatasi kuman, jamur, dan parasit lain agar tidak menimbulkan infeksi; Mempercepat proses penyembuhan.Kelenjar ini tersebar di berbagai bagian tubuh yang merupakan angkatan bersenjata yang senantiasa siap siaga dalam mempertahankan kondisi tubuh agar tetap prima.
7.Kelenjar kelamin (seks), berfungsi dalam: Mengatur perkembangan masa akil baligh; Menghentikan perkembangan tulang yang memanjang; Mempersiapkan rahim untuk kehamilan; Membentuk sel-sel kelamin.

Semua kelenjar tersebut di atas dapat bertugas menjalankan fungsinya masing-masing dengan cara mengeluarkan hormon-hormon. Misalnya ketika anda dalam keadaan takut, yang menstabilkan perasaan takut oranda itu adalah kelenjar andrenal. Kelenjar ini mengeluarkan hormon andrenalin sehingga anda dapat berlari kencang untuk menghindari kejaran anjing.
Sehingga, dalam pandangan biologi, sehat atau sakitnya manusia disebabkan oleh harmonis atau tidaknya hormon-hormon yang dipengaruhi oleh fungsi kelenjar-kelenjar. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya, hendaklah menjaga kesehatan sebelum sakit, memelihara hidup sebelum kematian datang.[12]

C. Sudut Pandang Psikologi

Sejak lama para ahli psikologi menduga bahwa di dalam jiwa manusia itu terdapat perasaan, kemauan, dan akal pikiran. Heymans mengistilahkan dengan emosionalitas, aktifitas dan fungsi skunder. Emosionalitas bersumber dari hati, sedangkan aktifitas bersumber dari hawa nafsu. Keduanya merupakan inti jiwa. Adapun akal merupakan kulit jiwa; karena itu, ia disebut fungsi skunder. Muatan kekuatan ketiga macam potensi kejiwaan ini tidak sama.
Karena itulah, menurut Heymans, ada delapan sifat dasar manusia: Tipe amorf, adalah orang yang kurang daya pikirannya, picik, pembeo, dan kaku dalam pergaulan. Tipe sanguinis, adalah orang yang bersikap kekanak-kanakan namun cekatan dan berani (karena kemauannya positif). Tipe flegmatis, adalah orang yang bersikap tenang, dapat menguasai emosi, bijaksana serta optimis (karena kemauan dan akalnya posisitf). Tipe apatis, adalah tipe manusia robot, sukar bergaul dan suka menyendiri tetapi pikirannya tajam (hanya akalnya yang aktif). Tipe nerves, adalah orang yang sangat dipengaruhi emosi, jiwanya sukar diduga, berpikir dangkal dan tidak sabar (hanya emosi yang berkuasa). Tipe koleris, adalah orang yang punya aktivitas tinggi, lincah, sangat perasa tetapi agak tumpul pikirannya (perasaan dan kemauan positif). Tipe gepassioner, adalah orang yang stabil antara emosi, kemauan, dan akalnya, berwatak garang, pemberani, perasa, pengkritik, tidak sabaran, suka curiga tetapi tekun dan ulet dalam bekerja. Tipe sintimental, adalah orang yang perayu, rapuh, mudah tersinggung, pencinta alam dan seni tetapi kurang ulet (karena kemauannya kurang kuat).
Dari kedelapan tipe ini, kita dapat melihat tipe 5, nerves adalah orang yang sangat dipengaruhi oleh emosi yang jiwanya sukar diduga, berpikiran dangkal. Orang seperti inilah yang mudah terkena goncangan jiwa. Mereka selalu mendengarkan suara hati tanpa pertimbangan akal sehingga kesadarannya dapat dikalahkan oleh kekuatan bawah sadarnya.[13]Dalam kehidupan modern ini sering muncul tingkah laku yang tidak wajar, seperti tindakan kriminal, manipulasi, korupsi, kejahatan seksual dan perbuatan penyimpangan sosial lainnya diakibatkan oleh persaingan hidup yang sedemikian ketat. Hal ini menimbulkan banyak kegelisahan, keresahan, ketakutan, dan ketegangan batin pada manusia. Akibatnya, tidak sedikit orang yang menderita ketegangan syaraf dan mengalami stres[14], yang meledak menjadi simpton penyakit mental. Jadi ketegangan serta ketakutan yang dialami manusia menjadi persemaian yang subur sekali bagi timbulnya bermacam-macam penyakit mental.
Apabila jiwa terguncang, pikiran menjadi tidak setabil, akibatnya mempengaruhi fisik manusia dan dapat menimbulkan penyakit yang disebut psikosomatik. Penderita psikosomatik bukan hanya membutuhkan terapi medis atau terapi fisik semata, tetapi juga membutuhkan terapi sufistik dengan salah satu metodenya, yaitu tobat.Uraian ini bertolak dari pemikiran bahwa sumber penyakit psikosomatik dapat disebabkan oleh konflik-konflik psikis atau dapat juga disebabkan oleh gangguan yang sifatnya organis.
Untuk memahami penyebabnya itu, kita harus melihat semua aspek yang mempengaruhi timbulnya gangguan psikosomatik. Diantaranya adalah aspek bio-psikososio dan spiritual. Apabila penyebabnya berasal dari aspek spiritual, seperti perasaan dosa, cara untuk menghilangkan keresahan jiwa tersebut adalah dengan bertobat, sebab tobat dapat membersihkan dan menjadikan terapi bagi jiwa yang sakit.[15] Karena memang kesehatan jasmani sangat bisa dipengaruhi oleh kesehatan mental. Untuk mengetahui lebih jauh terhadap hubungan antara kesehatan jasmani dengan mental, kita harus terlebih dahulu mengerti apa itu kesehatan mental. Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani. Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tenteram.
Menurut H. C. Witherington, permasalahan kesehatan mental menyengkut pengetahuan serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam lapangan psikologi, kedokteran, psikitari, biologi, sosiologi dan agama.[16] Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabanan). Dimaksudkan dengan istilah tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan turut menderita.[17] Dalam sebuah ungkapan hadits Nabi dinyatakan, bahwa kesehatan mental yang dukung oleh kualitas kesehatan tubuh kita akan meningkatkan kesalehan ritual dan sosial: Akal (mental) yang sehat itu tergantung dari tubuh yang sehat (Al-Hadits) Beberapa temuan di bidang kedokteran dijumpai sejumlah kasus yang membuktikan adanya hubungan tersebut, jiwa (psyche) dan badan (soma). Orang yang merasa takut, langsung kehilangan nafsu makan, atau buang-buang air. Atau dalam keadaan kesal dan jengkel, perut seseorang terasa menjadi kembung. Dan istilah “makan hati berulam jantung” merupakan cerminan tentang adanya hubungan antara jiwa dan badan sebagai hubungan timbal balik, jiwa sehat badan segar dan badan sehat jiwa normal.[18]

D. Sudut Pandang Tasawuf

Sehat dan sakit dalam pandangan tasawuf memiliki titik singgung dengan pandangan menurut psikologi karena terkait dengan kejiwaan (mental). Namun dalam pandangan tasawuf, kejiwaan manusia memiliki cakupan yang lebih luas. Dalam pandangan tasawuf, jiwa manusia mencakup unsur-unsur roh, akal, nafs, dan qalb. Dalam pandangan tasawuf, roh itu bagaikan lampu, sedangkan kehidupan laksana cahaya. Gerakan roh dan penyebarannya ke seluruh tubuh bagaikan gerakan lampu di dalam rumah. Inilah yang dimaksudkan dengan “roh” oleh para dokter. Akan tetapi, para dokter yang ingin membimbing roh menuju wilayah suci tidak menerima makna ini. Arti kedua dari makna roh adalah latifatul mudrikah atau sebuah organ pengetahuan. Inilah yang disebut Alquran dalam QS: Al-Isra/17: 85) yang artinya: “katakanlah bahwa roh itu urusan Tuhan”.
Karena terkait dengan aspek kejiwaan (roh, akal, nafs dan qalb), sehat dan sakit dalam pandangan tasawuf kita bisa kaitkan antara kesehatan jiwa[19] dengan aspek agama. Dr. Muhammad Mahmud Abdul Qadir telah membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui pendekatan teori biokimia. Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia tertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh kepada eksistensi dan berbagai kegiatan tubuh. Persenyawa-persenyawaan itu disebut hormon.
Lebih jauh Muhammad Mahmud Abdul Qadir berkesimpulan bahwa segala bentuk gejala emosi seperti bahagian, rasa dendam, rasa marah, takut, berani, pengecut yang ada dalam diri manusia adalah akibat dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan kimia hormon, di samping persenyawaan lainnya. Tetapi dalam kenyataannya, kehidupan akal dan emosi manusia senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, selalu terjadi perubahan-perubahan kecil produksi hormon-hormon yang merupakan unsur dasar dari keharmonisan kesadaran dan rasa hati manusia, tepatnya perasaannya.
Tetapi, jika terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik, takut, dan sedih yang berlangsung lama, akan timbul perubahan-perubahan kimia lain yang akan mengakibatkan penyakit syaraf yang bersifat kejiwaan. Hubungan penderita dengan dunia luar terputus, akalnya tertutupi oleh waham dan khayal yang membawanya jauh dari kenyataan hidup normal. Penderitaan selalu hidup dalam keadaan cemas dan murung, kebahagiaan hilang, penuh keraguan, takut, rasa berdosa, dengki, dan rasa bersalah.Timbulnya penyakit emosi seperti itu akibat dari kegoncangan dan hilangnya keseimbangan kimia tubuh seseorang.
Jika seseorang berada dalam keadaan normal, seimbang hormon dan kimiawinya, maka ia akan selalu berada dalam keadaan aman. Perubahan yang terjadi dalam kejiawaan itu disebut oleh Abdul Qadir sebagai spektrum hidup. Dan pergeseran arah ke kiri atau ke kanan dari pusat bila terjadi perubahan dalam proses pemikiran, akan terjadi perubahan kimia dan biologi tubuh. Dan besar kecilnya perubahan itu tergantung dari kemampuan manusia untuk menanggapi pengaruh itu. Kalau terjadi keseimbangan, maka akan kembali menjadi normal. Adapun terjhadinya pergeseran dari kondisi normal ke daerah yang berbahaya itu, menurut Abdul Qadir sangat tergantung dari derajat keimanan yang tersimpan di dalam diri manusia, disamping faktor susunan tubuh serta dalam atau dangkalnya rasa dan kesadaran manusia itu. (Muhammad Mahmud Abdul al-Qadir, 1979).
Penemuan Muhammad Mahmud Abdul Qadir, seorang ulama dan ahli biokimia ini, setidak-tidaknya memberi bukti akan adanya hubungan antara keyakinan agama dengan kesehatan jiwa.
Barangkali hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatau kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang serupa itu diduga akan memberi sikap optimistis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti bahagian, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa aman. Sikap emosi yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan asasi manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka, dalam kondisi yang serupa itu, manusia berada dalam keadaan tenang dan nromal, yang oleh Abdul Qadir disebutnya berada dalam keseimbangan persenyawaan kimia dan hormon tubuh. Dengan kata lain, kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadiannya, sehat jasmani dan ruhani.
Agaknya cukup logis kalau setiap ajaran agama mewajibkan penganutnya untuk melaksanakan ajarannya secara rutin. Bentuk dan pelaksanaan ibadah agama, paling tidak akan ikut berpengaruh dalam menanamkan rasa sukses sebagai pengabdi Tuhan yang setia. Tindak ibadah setidak-tidaknya akan memberi rasa bahwa hidup menjadi lebih bermakna. Dan manusia sebagai makhluk yang memiliki kesatuan jasmani dan ruhani secara tak terpisahkan memerlukan perlakukan yang dapat memuaskan keduanya.[20]
Dari aspek pembinaan manusia agar memiliki mental yang utuh disinilah peran agama menemui urgensinya atas sehat tidaknya mental seseorang. Karena agama adalah sumber dari segala sumber nilai dan norma yang memberi petunjuk, mengilhami dan mengikat masyarakat yang bermoral. Salah satu cara untuk menemukan fungsi agama adalah jalan tasawuf yang memiliki tujuan agar bagaimana manusia dapat mengerti makna hidup, mengerti akan posisi diri sebagai hamba dan dekat dengan Tuhannya yang Maha Kuasa. Sehingga penyeimbangan antara kebutuhan jasmani yang kasar dan kebutuhan ruhani (kejiwaan) yang sangat halus dapat dipenuhi dengan baik. Dengan jalan spirit tasawuf, suasana kejiwaan manusia dapat dikendalikan dengan baik setelah melalui proses-proses riyadhah (olah spirit), sehingga dapat terhindar dari sakit kejiwaan yang berakibat langsung terhadap sakitnya jasmani. Dan yang perlu diingat adalah bahwa spiritualitas (kedalaman ruhaniah) manusia sangat berhubungan dengan hati (qalb) karena hati merupakan inti dari segala aktifitas jiwa. Jika hati seseorang sakit, menjadi sakitlah aktivitas kerohaniahannya. Dan hati adalah obyek dari ajaran tasawuf.
Hati yang sakit berati mentalnya pun sakit. Mental yang sakit ini akan mempengaruhi seluruh aktifitas manusia. Oleh karena itu, banyak ahli mencoba merumuskan pendekatan-pendekatan dalam upaya menemukan pengobatan mental manusia yang sedang terkena penyakit. Disinilah kemudian berkembang psikoterapi.
Jadi, dalam pandangan tasawuf, sehat dan sakit merupakan gambaran kejiwaan seseorang. Jiwa yang sakit akan menampakkan gejala fisiknya yang lesu, lemah, tanpa semangat yang dapat diatasi dengan pendekatan tasawuf. Sebaliknya, jiwa yang sehat akan terlihat kondisi fisiknya yang energik, bertenaga dan bebas dari penyakit

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ahmad, Abdul Aziz bin Abdullah, Kesehatan Jiwa: Kajian Korelatif pemikinan Ivbnu Qayyin dan Psikologi Modern, (Pustaka Azzam: Jakarta), Januari, 2006
El-Quussiy, Abdul Aziz, Prof. Dr., Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, (Bulan Bintang: Jakarta), 1974
Dadang Hawari, Prof. Dr., Psikiater, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta), Juni, 2004
Darmawan, Rahmat, Kundalini Dharnayoga (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), 2004
H. Jalaluddin, Prof., Dr., Psikologi Agama: Memahami Perilaku Keagamaan dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta), Edisi Revisi, Cetakan ke-9, 2005
Judith Swarth, MS, RD, Stres dan Nutrisi (Bumi Aksara: Jakarta), Juli, 2004, Cetakan ke-3.
Moelyono dan Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (UMM: Malang), 2001
M. Sholihin, Dr., M. Ag. Terapi Sufistik, Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Prespektif Tasawuf, (Pustaka Setia: Bandung), Nop., 2004
Nakamura, Kojiro, Metode Zikir dan Doa Al-Ghazali, Edisi Terj., Uzair Fauzan (Bandung: Mizan), 2004
Salaby, Mas Rahim, Mengatasi Kegoncangan Jiwa Perspektif Al-Quran dan Sains, (Rosda Karya: Bandung), Mei, 2001
________________________________________
[2] Kesempurnaan fisik merupakan gambaran kesehatan jasmani yang diartikan sebagai keserasian yang sempurna antara bermacam-macam fungsi jasmani, disertai dengan kemampuan untuk menghadapi kesukaran-kesukaran yang biasa, yang terdapat dalam lingkungan , disamping secara positif merasa gesit, kuat dan bersemangat. Lihat Prof. Dr. Abdul Aziz el-Qussiy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, (Bulan Bintang: Jakarta), 1974, hal. 12
[3] Moelyono dan Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (UMM: Malang), 2001, hal. 3-4.
[4] Prof. Dr. Dadang Hawari, Psikiater, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (PT Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta), Juni, 2004, hal. 33-34
[5] Op. Cit, hal 5
[6] Mas Rahim Salaby, Mengatasi Kegoncangan Jiwa Perspektif Al-Quran dan Sains, (Rosda Karya: Bandung), Mei, 2001, hal. 3-8
[7] Kojiro Nakamura, Metode Zikir dan Doa Al-Ghazali, Edisi Terj., Uzair Fauzan (Bandung: Mizan), 2004, hal, 63
[8] Uraian lebih lengkap baca juga Rahmat Darmawan, Kundalini Dharnayoga (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), 2004, hal. 17
[9] Ibid, hal. 9
[10]A. Scott (1961) melakukan penelitian secara mendalam tentang berbagai pengertian ganguan mental. Dia mengelompokkan terdapat enam macam kriteria untuk menentukan seseorang mengalami gangguan mental, yaitu: (a) orang yang memperoleh pengobatan psikiatris, (b) salah penyesuaian (maladjusment) sosial, (c) hasil diagnosis psikiatris, (d) ketidakbahagiaan subyektif, (e) adanya simpton-simpton psikologis secara objektif dan (f) kegagalan adaptasi secara positif. Lihat dalam Moelyono dan Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (UMM: Malang), 2001, hal. 43.
[11] Op. Cit, hal. 9-12
[12] Ibid, hal. 16
[13] Mas Rahim Salaby, hal 17-19
[14] Stres adalah suatu kekuatan yang memaksa seseorang untuk berubah, bertumbuh, berjuang, beradaptasi atau mendapatkan keuntungan. Semua kejadian dalam kehidupan, bahkan yang bersifat positif juga menyebabkan stres. Tidak semua stres bersifat merusak karena rangsangan, tantangan dan perubahan akan memberikan keuntungan bagi kehidupan seseorang. Meskipun demikian, sebagian besar mendertita stres yang berlebihan dan kemampuan mengatasinya terbatas. Lihat dalam Judith Swarth, MS, RD, Stres dan Nutrisi (Bumi Aksara: Jakarta), Juli, 2004, Cetakan ke-3, hal. 1-2
[15] Dr. M. Sholihin, M. Ag. Terapi Sufistik, Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Prespektif Tasauf, (Pustaka Setia: Bandung), Nop., 2004, hal. 123
[16] H. Jalaluddin, Prof., Dr., Psikologi Agama: Memahami Perilaku Keagamaan dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi, (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta), Edisi Revisi, Cetakan ke-9, 2005, hal. 156.
[17] Ibid
[18] Ibid, hal 157
[19] Ibnu Qayyim al-Jauziyah menekankan pentingnya kesehatan jiwa yang disistilahkan dengan “kebahagiaan jiwa” atau pola hidup yang baik dan sehat kaitannya dengan manusia. Menurutnya, istilah hidup yang sehat atau kebahagiaan jiwa sebagai ungkapan kesehatan jiwa. Baginya, wahyu adalah sumber kehidupan roh, sedangkan roh merupakan sumber kehidupan jasmani. Karenanya, barang siapa yang kehilangan roh, maka ia akan kehilangan kehidupan yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Lihat Abdul Aziz bin Abdullah al-Ahmad, Kesehatan Jiwa: Kajian Korelatif pemikinan Ibnu Qayyim dan Psikologi Modern, (Pustaka Azzam: Jakarta), Januari, 2006, hal. 72
[20] Ibid.

Segumpal Awan I

Ku titipkan sehelai bulu pada angin

Ku biarkan ia menepi di lautan kasih cinta ilahi

Jantungku masih mendenyutkan nama-Nya

Kemudian sejenak ku titipkan rohku dalam genggaman-Nya

(Semarang, 13 Maret 2011 12:40am)

 

kuserahkan kehidupaku sepenuhnya pada-Mu,

lalu ketika mentari datang, dan begitu banyak nikmat kau berikan

dan ku tertunduk di kaki langit-Mu yang agung….

Do More

jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.

If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.
~ Thomas Jefferson
Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.
In this life we cannot always do great things. But we can do small things with great love
~Mother Teresa
Visi tanpa eksekusi adalah lamunan. Eksekusi tanpa visi adalah mimpi buruk.
Vision without execution is a daydream. Execution without vision is a nightmare.
~ Japanese Proverb
keinginan yang besar harus dibarengi dengan semangat dan niat yang besar pula. jika tidak, bagai pungguk merindukan bulan, tak akan terjadi dan terealisasi. yakinlah bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merealisasikan apa yang kita inginkan. jangan putus asa ketika mencoba dan gagal. Tuhan mendengar doa-doa kita, dan Dia memberi potensi kita untuk merealisasikannya. nah, sekarang tergantung kita apakah kita benar-benar ingin dan mau merealisasikannya. bermimpilah, jangan mudah berputus asa, tetap semangat, dan motivasilah diri Anda agar tetap berpandangan maju kedepan.
salam hangat dari mentari pagi,

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.